Facebook Gaming

Showing posts with label TEKNOLOGI BETON I. Show all posts
Showing posts with label TEKNOLOGI BETON I. Show all posts

Sunday, April 17, 2011

Metode Pemadatan Beton ( Vibrating )


Pendahuluan
            Pencampuran bahan – bahan penyusun beton dilakukan agar diperoleh suatu komposisi yang solid dari bahan – bahan penyusun berdasarkan rancangan campuran beton. Agar tetap terjaga konsistensi rancangannya, tahapan lebih lanjut dalam pengolahan beton perlu diperhatikan. Tahapan pelaksanaan di lapangan meliputi :
-          Persiapan
-          Penakaran
-          Pengadukan ( mixing )
-          Penuangan atau Pengecoran ( Placing )
-          Pemadatan ( Vibrating )
-          Penyelesaian Akhir ( Finishing )
-          Perawatan ( Curing )

Pemadatan
Pemadatan dilakukan segera setelah beton dituang. Kebutuhan akan alat pemadat disesuaikan dengan kapasitas pengecoran dan tingkat kesulitan pengerjaan. Pemadatan dilakukan sebelum terjadinya setting time pada beton.

Untuk menghilangkan udara yang terdapat antara dinding dan spesi beton juga di dalam campuran beton itu sendiri dilakukan pemadatan. Karena kalau tidak dilakukan maka udara akan membentuk ruang kosong dalam beton. Ruang kosong itu sangat merugikan bagi kualitas beton, selain kekuatannya berkurang hasil cornya akan buruk dan berongga.

Metode pemadatan yang dilakukan adalah dengan tangan dan jarum penggetar. Metode pemadatan dengan tangan yaitu dengan cara menusuk-nusuk dengan sepotong kayu atau batang lain. Sedangkan metoda dengan jarum getar yaitu pemadatan dengan menggunakan alat mekanis yang disebut jarum penggetar atau vibrator.  Para pekerja yang melakukan pekerjaan ini dibekali cara-cara praktis untuk mengetahui cukup tidaknya pemadatan. Pengambilan keputusan apakah telah atau belum cukup pemadatan yang dilakukan ialah dengan menggunakan indera penglihatan dan pendengaran. Untuk indera penglihatan dapat dilihat keluarnya gelembung-gelembung udara yang besar kemudian disertai gelembung-gelembung yang kecil. Juga dapat dilihat pada permukaan beton akan mulai bersinar akibat cukupnya air akibat bleeding.

Pada indera pendengaran digunakan untuk memeriksa frekuensi dari alat penggetar. Alat penggetar yang berada di luar beton akan mengeluarkan suara yang nyaring berfrekuensi tinggi, tetapi begitu dimasukkan dalam campuran beton maka suaranya menjadi rendah dan frekuensinya rendah pula, kemudian lambat laun suaranya akan meninggi dan mencapai frekuensi yang konstan, bila hal ini terjadi maka pemadatan sudah cukup.

Pemadatan dilakukan segera setelah beton dituang. Kebutuhan akan alat pemadat disesuaikan dengan kapasitas pengecoran dan tingkat kesulitan pengerjaan. Pemadatan dilakukan sebelum terjadinya initial setting time pada beton. Dalam praktik di lapangan, pengindikasian initial setting time dilakukan dengan cara menusuk beton tersebut sedalam 10 cm. Jika masih dapat ditusuk sedalam 10 cm, berarti initial setting belum tercapai.

Pemadatan dimaksudkan untuk menghilangkan rongga-rongga udara yang terdapat dalam beton segar. Pada pengerjaan beton dengan kapasitas kecil, alat pemadat dapat berupa kayu atau besi tulangan. Sedangkan adapun alat yang sering digunakan pada pengerjaan dengan volume besar yaitu vibrator atau alat getar.
Pada pengerjaan beton dengan kapasitas kecil, alat pemadat dapat berupa kayu atau besi tulangan. Untuk pengecoran dengan kapasitas lebih besar dari 10 m³, alat pemadat mesin harus digunakan. Alat pemadat ini lebih dikenal dengan nama vibrator atau alat getar. Pemadatan dilakukan dengan penggetaran. Campuran beton akan mengalir dan memadat karena rongga-rongga akan terisi dengan butir-butir yang lebih halus. Alat getar ini dibagi menjadi dua, yaitu :
1.      Alat getar intern (internal vibrator), yaitu alat getar yang berupa tongkat dan digerakan dengan mesin. Untuk menggunakannya, tongkat dimasukkan ke dalam beton pada waktu tertentu, tanpa harus menyebabkan bleeding.
2.      Alat getar cetakan (external vibrator or form vibrator), yaitu alat getar yang mengetarkan form work sehingga betonnya bergetar dan memadat.

Ada beberapa pedoman yang digunakan dalam proses pemadatan, antara lain:
a.       Pada jarak yang berdekatan/pendek, pemadatan dengan alat getar dilaksanakan dalam waktu yang pendek.
b.      Pemadatan dilaksanakan secara vertikal dan jatuh dengan beratnya sendiri.
c.       Tidak menyebabkan bleeding.
d.      Pemadatan merata.
e.       Tidak terjadi kontak antara alat getar dengan bekisting.
f.       Alat getar tidak berfungsi untuk mengalirkan, mengangkut atau memindahkan beton.

Pemadatan yang tidak baik akan menyebabkan menurunnya kekuatan beton, karena tidak terjadinya pencampuran bahan yang homogeny. Pemadatan yang berlebih pun akan menyebabkan terjadinya bleeding. Pemadatan harus dilakukan sesuai dengan syarat mtu. Hal ini yang dapat dilakukan adalah melihat manual pemadat yang digunakan sehingga pemadatan pada campuran beton dapat dilakukan secara efisien dan efektif.

Penyelesaian Akhir (Finishing)
Pekerjaan akhir ini dimaksudkan untuk mendapatkan sebuah permukaan beton yang rata dan mulus. Pekerjaan ini biasanya dilakukan pada saat beton belum mencapai final setting, karena pada masa ini beton masih dapat dibentuk. Alat yang digunakan biasanya ruskam, jidar dan alat-alat perata lainnya.


Perawatan Beton (Curing)  
Perawatan ini dilakukan setelah beton mencapai final setting, artinya beton telah mengeras. Perawatan ini dilakukan agar proses hidrasi selanjutnya tidak mengalami gangguan. Jika hal ini terjadi, beton akan mengalami keretakan karena kehilangan air yang begitu cepat. Perawatan dilakukan minimal selama 7 (tujuh) hari dan beton berkekuatan awal tinggi minimal selama 3 (tiga) hari serta harus dipertahankan dalam kondisi lembab, kecuali dilakukan dengan perawatan yang dipercepat.

Metode Penakaran Beton ( Batching )

Beton merupakan salah satu bahan konstruksi yang telah umum
digunakan untuk bangunan gedung, jembatan, jalan, dan lain-lain. Beton merupakan satu kesatuan yang homogen. Beton ini didapatkan dengan cara
mencampur agregat halus (pasir), agregat kasar (kerikil), atau jenis agregat
lain dan air, dengan semen portland atau semen hidrolik yang lain, kadang²
kadang dengan bahan tambahan (additif) yang bersifat kimiawi ataupun
fisikal pada perbandingan tertentu, sampai menjadi satu kesatuan yang
homogen. Campuran tersebut akan mengeras seperti batuan. Pengerasan
terjadi karena peristiwa reaksi kimia antara semen dengan air.
Beton yang sudah mengeras dapat juga dikatakan sebagai batuan
tiruan, dengan rongga² antara butiran yang besar (agregat kasar atau
batu pecah), dan diisi oleh batuan kecil (agregat halus atau pasir), dan poriâ
pori antara agregat halus diisi oleh semen dan air (pasta semen). Pasta semen
juga berfungsi sebagai perekat atau pengikat dalam proses pengerasan,
sehingga butiran–butiran agregat saling terekat dengan kuat sehingga
terbentuklah suatu kesatuan yang padat dan tahan lama.
Membuat beton sebenarnya tidaklah sederhana hanya sekedar
mencampurkan bahan-bahan dasarnya untuk membentuk campuran yang
plastis sebagaimana sering terlihat pada pembuatan bangunan sederhana.
Tetapi jika ingin membuat beton yang baik, dalam arti memenuhi persyaratan
yang lebih ketat karena tuntutan yang lebih tinggi, maka harus
diperhitungkan dengan seksama cara-cara memperoleh adukan beton segar
yang baik dan menghasilkan beton keras yang baik pula. Beton segar yang
baik ialah beton segar yang dapat diaduk, dapat diangkut, dapat dituang,
dapat dipadatkan, tidak ada kecenderungan untuk terjadi pemisahan kerikil
dari adukan maupun pemisahan air dan semen dari adukan. Beton keras yang
baik adalah beton yang kuat, tahan lama, kedap air, tahan aus, dan kembang susutnya kecil (Tjokrodimulyo 1996 : 2)

Beton memiliki kelebihan dan kekurangan antara lain sebagai berikut (Tjokrodimulyo 1996 : 2) :
Kelebihan Beton :
1. Beton mampu menahan gaya tekan dengan baik, serta mempunyai sifat
tahan terhadap korosi dan pembusukan oleh kondisi lingkungan.
2. Beton segar dapat dengan mudah dicetak sesuai dengan keinginan.
Cetakan dapat pula dipakai berulang kali sehingga lebih ekonomis.
3. Beton segar dapat disemprotkan pada permukaan beton lama yang retak
maupun dapat diisikan kedalam retakan beton dalam proses perbaikan.
4. Beton segar dapat dipompakan sehingga memungkinkan untuk dituang
pada tempat² yang posisinya sulit.
5. Beton tahan aus dan tahan bakar, sehingga perawatannya lebih murah.
Kekurangan Beton :
1. Beton dianggap tidak mampu menahan gaya tarik, sehingga mudah retak.
Oleh karena itu perlu di beri baja tulangan sebagai penahan gaya tarik.
2. Beton keras menyusut dan mengembang bila terjadi perubahan
suhu,sehingga perlu dibuat dilatasi (expansion joint) untuk mencegah
terjadinya retakan² akibat terjadinya perubahan suhu.
3. Untuk mendapatkan beton kedap air secara sempurna, harus dilakukan
dengan pengerjaan yang teliti.
4. Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dihitung dan diteliti
secara seksama agar setelah dikompositkan dengan baja tulangan menjadi
bersifat daktail, terutama pada struktur tahan gempa.
Batching plant merupakan alat yang berfungsi untuk mencampur/memproduksi beton dalam produksi yang besar. Batching plant digunakan agar produksi beton ready mix tetap dalam kualitas yang baik, sesuai standar, nilai slump test dan trength-nya stabil sesuai yang diharapkan, untuk itu komposisi material harus terkendali. Dalam artikel kali ini, dipakai tipe dry mixed. Tipe dry mixed yaitu batching plant yang fungsinya hanya untuk menimbang saja, pengadukan beton ready mix dilakukan pada concrete mixer truck. Semua material yang akan diaduk, sebelumnya ditimbang sesuai dengan mix design dengan memperhitungkan kandungan air dalam material, baik dalam agregat kasar maupun agregat halus (pasir).
Bagian-bagian batching plant antara lain:
1. Cement silo, berfungsi untuk tempat penyimpanan semen dan menjaga semen agar tetap baik.
2. Belt conveyor, berfungsi untuk menarik bahan/material (agregat kasar dan agregat halus) ke atas dari bin ke storage bin.
3. Bin, berfungsi sebagai tempat pengumpulan bahan/material (agregat kasar dan agregat halus) yang berasal dari penumpukan bahan di base camp dengan bantuan wheel loader untuk di tarik ke atas (storage bin).
4. Storage bin, digunakan untuk pemisah fraksi agregat. Storage bin dibagi menjadi 4 (empat) fraksi, yaitu: agregat butir kasar (split), butir menengah (screening), butir halus (pasir), dan glide ash.
5. Timbangan pada alat batching plant dibagi menjadi 3 (dua) macam, yaitu: timbangan untuk agregat, timbangan untuk semen, dan timbangan untuk air.
6. Dosage pump, digunakan untuk penambahan bahan admixture seperti retarder.
7. Tempat penampungan air yang berfungsi sebagai supply kebutuhan air pada ready mix.
Alat berat yang dibutuhkan pada batching plant antara lain:
Dump truck
berfungsi untuk mengangkut bahan/material (agregat kasar dan agregat halus) dari quarry menuju ke base camp.
Wheel loader
berfungsi untuk alat angkut bahan/material (agregat kasar dan agregat halus) dari tempat penumpukan material menuju ke bin. Wheel loader memiliki bucket untuk membawa material dan bergerak dengan menggunakan roda karet, sehingga mobilitasnya tergolong cepat.
Cement truck
berfungsi sebagai pengangkutan semen curah dari pabrik semen ke base camp.
Concrete mixer truck
adalah suatu kendaraan truk khusus yang dilengkapi dengan concrete mixer yang fungsinya mengaduk/mencampur campuran beton ready mix, sama dengan alat molen. Concrete mixer truck digunakan untuk mengangkut adukan beton ready mix dari tempat pencampuran beton ke lokasi proyek. Selama pengangkutan, mixer terus berputar dengan kecepatan 8-12 putaran per menit agar beton tetap homogen dan beton tidak mengeras. Prinsip kerja concrete mixer truck ini secara sederhana adalah sebagai berikut.
Dalam drum terdapat bilah-bilah baja,
ketika dalam perjalanan menuju lokasi proyek, drum ini berputar
perlahan-lahan berlawanan putaran jarum jam sehingga adukan mengarah ke
dalam. Perputaran di dalam bertujuan agar tidak terjadi pergeseran
ataupun pemisahan agregat sehingga adukan tetap homogen. Dengan
demikian, mutu beton akan selalu terjaga sesuai dengan kebutuhan
rencana.
Ketika sampai di lokasi proyek dan pengecoran berlangsung, arah
putaran drum dibalikkan searah putaran jarum jam dan percepatan putaran
diperbesar sehingga adukan beton keluar. Proses pengiriman beton ready mix
diatur dengan memperhatikan jarak, kondisi lalu lintas, cuaca, dan
suhu, karena hal-hal tersebut dapat mempengaruhi waktu dalam
pelaksanaan pekerjaan pengecoran. Pada proyek ini pengadaan concrete mixer truck menjadi tanggung jawab penyedia ready mix.
Ready-mix concrete
Ready-mix concrete adalah jenis beton yang diproduksi di sebuah pabrik atau tanaman batching, menurut resep set, dan kemudian dikirim ke sebuah tempat kerja, dengan truk mount mixer transit. Hal ini menghasilkan campuran yang tepat, yang memungkinkan campuran beton khusus untuk dikembangkan dan diimplementasikan pada lokasi konstruksi. Yang pertama ready-mix dibangun pada tahun 1930-an, namun industri tidak dimulai untuk memperluas secara signifikan sampai tahun 1960, dan terus berkembang sejak saat itu.
Ready-mix concrete kadang-kadang lebih dipilih daripada beton di tempat pencampuran karena ketepatan campuran dan kebingungan di tempat kerja berkurang. Namun, menggunakan campuran beton ditentukan pre-mengurangi fleksibilitas, baik dalam rantai pasokan dan dalam komponen aktual beton.
The leading ready-mix concrete supplier worldwide is the Mexican concrete company Cemex ; its main competitor is France -based Lafarge Terkemuka campuran beton siap-pemasok di seluruh dunia adalah Meksiko beton perusahaan Cemex ; pesaing utamanya adalah Perancis berbasis Lafarge
Ready Mixed Concrete juga disebut sebagai produk beton disesuaikan untuk tujuan komersial. the Ready-mix Concrete Perusahaan menawarkan yang berbeda sesuai dengan desain campuran pengguna atau standar industri.
Perusahaan The Ready mixed concrete diperlukan untuk melengkapi diri dengan peralatan up-to-date, seperti mixer transit, pompa beton, dan Beton batching plant, yang membutuhkan visualisasi produksi software manajemen dan juga kontroler PLC.
Ready Mixed Concrete, atau RMC seperti yang populer disebut, mengacu pada beton yang khusus dibuat untuk pengiriman ke lokasi pembangunan pelanggan dalam keadaan segar dicampur dan plastik atau tidak dikeraskan. Beton sendiri adalah campuran dari Portland, air semen dan agregat terdiri dari pasir dan batu kerikil atau dihancurkan. Di lokasi kerja tradisional, masing-masing bahan adalah pengadaan secara terpisah dan dicampur dalam proporsi tertentu di lokasi untuk membuat beton. Siap Beton dibeli dan dijual oleh volume – biasanya dinyatakan dalam meter kubik. RMC bisa custom-made sesuai dengan aplikasi yang berbeda.
Ready Mixed Concrete diproduksi di bawah operasi komputer dikontrol dan diangkut dan ditempatkan di lokasi dengan menggunakan peralatan canggih dan metode. RMC meyakinkan pelanggannya banyak manfaat.
Advantages of Ready mix Concrete over Site mix Concrete
• Sebuah pabrik batching terpusat beton dapat melayani area yang luas.
• Tanaman yang berada di daerah dikategorikan untuk keperluan industri, namun truk-truk pengiriman dapat melayani daerah pemukiman atau kota batin.
• Lebih baik kualitas beton yang dihasilkan.
• Penghapusan ruang penyimpanan untuk bahan baku di lokasi.
• Elimination of procurement / hiring of plant and machinery Penghapusan pengadaan / mempekerjakan tanaman dan mesin
• Wastage bahan dasar dihindari.
• Tenaga kerja yang terkait dengan produksi beton dihilangkan.
• Waktu yang dibutuhkan sangat berkurang.
• Kebisingan dan debu polusi di situs berkurang.
• Mengurangi biaya.
Disadvantages of Ready-Mix Concrete
• Bahan ini batched di pabrik pusat, dan pencampuran dimulai di pabrik itu, sehingga waktu perjalanan dari pabrik untuk situs sangat penting jarak yang lebih jauh. Beberapa situs hanya terlalu jauh, meskipun ini adalah biasanya komersial dibandingkan masalah teknis.
• Generasi lalu lintas jalan tambahan; lebih lanjut, akses jalan, dan akses situs harus mampu membawa berat truk dan beban. Concrete is approx. Beton adalah approx. 2.5tonne per m³. 2.5tonne per m³. Masalah ini dapat diatasi dengan memanfaatkan perusahaan ‘MiniMix’ apa yang disebut, dengan menggunakan mixer ³ 4m kapasitas lebih kecil bisa mengakses situs lebih terbatas.
• timespan terbatas Beton di antara pencampuran dan pergi-off berarti jadi yang harus ditempatkan dalam waktu 90 menit batching di pabrik.
aditif Modern memodifikasi tepat bahwa timespan Namun, jumlah aditif ditambahkan ke dalam campuran sangat penting.
sumber dari http://www.ilmusipil.com dan http://en.wikipedia.org/wiki/Ready-mix_concrete

Metode Pencampuran Beton ( Mixing )

Perencanaan campuran beton (mix design) adalah suatu langkah yang sangat penting dalam pengendalian mutu beton. Campuran yang salah akan mempengaruhi kemudahan pelaksanaan maupun performa beton dalam pemakaian. Makalah yang menarik ini mengungkapkan pengalaman dan praktek yang dilakukan di Romania dalam merencanakan campuran beton untuk berbagai kepentingan.
Adukan Beton direncanakan sedemikian rupa sehingga beton yang dihasilkan dapat dengan mudah dikerjakan dengan biaya yang serendah mungkin tentu saja.
Beton harus mempunyai workabilitas yang tinggi, memiliki sifat kohesi yang tinggi saat dalam kondisi plastis (belum mengeras), sehingga beton yang dihasilkan cukup kuat dan tahan lama.
Adukan (campuran) beton harus mempertimbangkan lingkungan di mana beton tersebut akan berdiri, misalnya di lingkungan tepi laut, atau beban-beban yang berat, atau kondisi cuaca yang ekstrim.

PROPORSIONAL
Reminder: Beton adalah campuran antara semen, agregat kasar dan halus, air, dan zat aditif. Komposisi yang berbeda-beda di antara bahan baku beton mempengaruhi sifat beton yang dihasilkan pada akhirnya. Pembagian ini biasanya diukur dalam satuan berat. Pengukuran berdasarkan volume juga sebenarnya bisa, dan lebih banyak dilakukan pada konstruksi skala kecil, misalnya rumah tinggal.

SEMEN
Jika kadar semen dinaikkan, maka kekuatan dan durabilitas beton juga akan meningkat. Semen (bersama dengan air) akan membentuk pasta yang akan mengikat agregat mulai dari yang paling besar (kasar) sampai yang paling halus.

AIR
Sebaliknya, penambahan air justru akan mengurangi kekuatan beton. Air cukup digunakan untuk melarutkan semen. Air juga yang membuat adukan menjadi kohesif, dan mudah dikerjakan (workable).


RASIO AIR-SEMEN
Biasa disebut dengan w/c ratio alias water to cement ratio. Jika w/c ratio semakin besar, kekuatan dan daya tahan beton menjadi berkurang. Pada lingkungan tertentu, rasio air-semen ini dibatasi maksimal 0.40-0.50 tergantung sifat korosif atau kadar sulfat yang ada di lingkungan tersebut.

AGREGAT
Jika agregat halus terlalu banyak, maka adukannya akan terlihat “sticky“, encer, “lunak”, seperti tidak punya kekuatan. Dan setelah pemadatan, bagian atas adukan akan cenderung “kosong” alias tidak ada agregat.
Sebaliknya, jika agregat kasar terlalu banyak, adukannya akan terlihat kasar, berbatu, kelihatan getas (rapuh). Agregat ini akan muncul di permukaan setelah dipadatkan.

PENCAMPURAN
Beton harus dicampur dan diaduk dengan baik sehingga sement, air, agregat, dan zat tambahan bisa tersebar merata di dalam adukan.

Beton biasanya dicampur dengan menggunakan mesin. Ada yang dicampur di lapangan (site) ada juga yang sudah dicampur sebelum dibawa ke lapangan, atau istilahnya ready-mix.
Untuk beton ready-mix, takarannya sudah diukur di batch plant, kemudian dicampur dan dimasukkan ke dalam truk. Selama perjalanan drum beton tersebut terus diputar agar beton tidak mengalami setting di dalam drum. Kan aneh kalau misalnya kena macet trus betonnya sudah mengeras di dalam drum. Kadang, di dalam perjalanan, bisa jadi karena lama di jalan, cuaca panas, atau kelamaan diputar, temperatur di dalam drum meningkat sehingga air menguap. Kondisi ini kadang “diakali” dengan memasukkan bongkahan es balok yang besar ke dalam drum, sehingga kadar air bisa tetap dipertahankan. Hmm.. kalo ditambah sedotan, drum truk itu bisa kita beri label “Jus Beton Segar”.

Sementara beton yang dicampur dilapangan biasanya menggunakan mesin yang dinamakan MOLEN (mirip-mirip nama sejenis gorengan pisang). Sewaktu mencampur di lapangan, agregat terlebih dahulu dimasukkan ke dalam tong (molen), kemudian diikuti oleh pasir dan terakhir semen. Semuanya dalam takaran tertentu sesuai dengan mutu beton yang diinginkan.

Ketika semua bahan (kecuali air) sudah masuk, moleh diputar sehingga semua bahan tercampur. Katanya sih, kalau sudah tidak ada pasir yang terlihat secara kasat mata, berarti adukannya itu sudah merata. Saat itulah dilakukan penambahan air sedikit demi sedikit.

Molen punya kapasitas (volume). Mencampur terlalu penuh juga tidak efektif karena proses pencampurannya akan memakan waktu yang lebih lama. Sebaiknya molen diisi secukupnya dulu, kemudian jika sudah jadi, seluruh isi molen dituang ke wadah sementara sebelum diangkut atau dicor ke bekisting. Sewaktu adukan beton diangkut (dicor), molen bisa bekerja lagi untuk membuat adukan berikutnya. Begitu adukan pertama sudah dituang semua, molen pun sudah selesai membuat adukan kedua, jadi tidak ada delay ketika molen bekerja.

Nah, untuk skala yang sangat kecil, beton boleh dicampur dengan menggunakan sekop. Harus dilakukan di tempat yang datar dan bersih (maksudnya bebas dari ranting, daun, sampah, dan material pengganggu lainnya). Kerikil, pasir, dan semen diaduk/dicampur dulu, kemudian dibuat seperti gundukan, dan di puncaknya digali dibuat seperti danau untuk menampung air. Jika adukan dicampur di wadah yang sisi-sisinya tertutup sehingga air bisa dibendung, nggak usah repot-repot bikin gundukan, langsung saja tuang air ke wadah tersebut.

Proses pencampuran antara bahan – bahan dasar beton yaitu semen, air pasir dan kerikil dalam perbandingan yang baik disebut proses pengadukan beton.
Pengadukan ini dilakukan sampai warna adukan tampak rata, kelacakan yang cukup ( tidak cair tidak padat ), dan tampak campurannya juga homogeny. Pemisahan butir seharusnya tidak boleh terjadi selama proses pengadukan ini. Cara pengadukan dapat dilakukan dengan mesin atau tangan.
1.      Pengadukan dengan tangan
Pengadukan dengan tangan biasanya dilakukan apabila jumlah beton yang dibuat hanya sedikit. Cara ini juga dilakukan apabila tidak ada mesin aduk beton atau tidak diiringi suara berisik yang ditimbulkan oleh mesin.
Mula – mula semen dan pasir dicampur secara kering diatas tempat yang rata, bersih, keras dan tidak menyerap air. Pencampuran secara kering ini dilakukan sampai warnanya sama. Campuran yang kering ini kemudian dicampur dengan kerikil dan diaduk kembali sampai merata. Alat pencampur dapat berupa cangkul, sekup atau cetok.\
Kemudian ditengah adukan dibuat lubang dan ditambahkan air sebanyak 75% dari jumlah air yang diperlukan, lalu adukan diulangi dan ditambahkan sisa air sampai adukan tampak merata.
2.      Pengadukan dengan mesin
Untuk pekerjaan – pekerjaan besar yang menggunakan beton dalam jumlah banyak, pengadukan dengan mesin dapat lebih murah dan memuaskan. Beton yang dibuat dengan mesin dapat lebih homogeny dan dapat dilakukan dengan faktor air semen yang lebih sedikit daripada bila diaduk dengan tangan.

Langkah – Langkah Pencampuran

Setelah ditetapkan unsur – unsur campuran, prosedur praktikum untuk pelaksanaan campuran beton adalah sebagai berikut :

1.      Mempersiapkan bahan campuran sesuai dengan rencana berat pada wadah yang terpisah.
2.      Mempersiapkan wadah yang cukup menampung volume beton basah rencana.
3.      Memasukkan agregat kasar dan halus dalam wadah.
4.      Mencampurkan agregat dengan menggunakan sekop atau alat pengaduk.
5.      Menambahkan pada agregat campuran dan mengulangi proses pencampuran sehingga diperoleh adukan kering agregat dan semen merata.
6.      Menambahkan 1/3 jumlah air total kedalam wadah, dan lakukan pencampuran sampai terlihat konsistensi adukan merata.
7.      Menambahkan kembali 1/3 jumlah air kedalam wadah dan mengulangi proses untuk mendapatkan konsistensi adukan.
8.      Melakukan pemeriksaan SLUMP.
9.      Apabila nilai SLUMP sudah mencapai nilai rencana, lakukan perbuatan benda uji silender beton dan kubus. Jika belum tercapai SLUMP yang diinginkan, tambahkan sisa air dan lakukan pengadukan kembali.
10.  Menghitung berat jenis beton.
11.  Membuat empat benda uji silinder dan empat benda uji kubus sesuai petunjuk.
12.  Mencatat hal – hal yang menyimpang dari perencanaan, terutama jumlah air dan nilai SLUMP.

PENCAMPURAN BETON
Pencampuran beton dapat dilakukan dengan cara yang paling sederhana sampai dengan yang modern, tergantung dari tuntutan mutu beton yang akan diproduksi.
Secara garis besar metode pencampuran adalah sebagai berikut:
1.      Metode sederhana, yaitu pencampuran dengan manusia Metode ini biasanya dipakai untuk beton non struktur dan volume kecil
2.      Metode pencampuran dengan mesin (Portable Concrete  Mixer) MOLEN
Metode ini dipakai pada pencampuran beton mutu sedang dan volume yang tidak terlalu banyak
3.      Metode pencampuran dengan mesin di pabrik produksi beton  atau beton pra-campur (Ready Mix)
Pencampuran beton dilakukan di pabrik beton pra-campur, proporsi campuran dilaksanakan dalam perbandingan berat. Metode ini merupakan metode yang terbaik dibandingkan dengan metode sebelumnya. Jadi metode ini sangat baik untuk produksi beton dalam volume besar dengan mutu tinggi.

PENGARUH WAKTU PENGADUKAN BETON SELAMA 90 MENIT TERHADAP KUAT TEKAN BETON DENGAN VARIASI WAKTU PENCAMPURAN BAHAN TAMBAH SIKAMENT 520 0,2% SETIAP 30 MENIT

Dewasa ini penggunaan beton sebagai material bahan bangunan sering menjadi pilihan utama, selain karena mudah dibentuk, mudah diproduksi dan mudah perawatannya, juga mempunyai kuat tekan yang tinggi. Dalam pelaksanaanya Pekerjaan pencampuran dan pengadukan bahan beton sekarang ini tidak hanya dapat dilakukan di areal proyek, namun juga dapat dipesan di pabrik atau sering disebut dengan istilah beton ready mix. Dengan beton ready mix pekerjaan menjadi lebih mudah dikerjakan dan dapat menghemat tenaga kerja. Faktor jarak antara Butching plant dengan lokasi proyek sering menjadi kendala, karena pada pengadukan beton yang terlalu lama dapat mengurangi kualitas beton yang dihasilkanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuat tekan beton dengan penambahan bahan tambah Sikament 520 secara bertahap pada setiap pertambahan waktu pengadukan dan juga untuk mengetahui angka slump beton segar yang dihasilkanya.
Penelitian ini menggunakan mix design metode SNI dan ukuran maksimum agregat kasar maksimal 20 mm, lama waktu pengadukan yang digunakan selama 90 menit dengan pemberian Sikament 520 0,2% dan pengujian setiap 30 menit. Benda uji yang digunakan berupa silinder dengan diameter 150 mm dan 300 mm, masing-masing sebanyak 3 buah sampel untuk tiap variasinya. Pengujian kuat tekan beton dilakukan pada umur beton 28 hari.
Hasil penelitian menunjukan bahwa lama penambahan waktu pengadukan mempengaruhi kualitas beton yang dihasilkanya. Kuat tekan tertinggi terdapat pada beton dengan pengadukan selama 90 menit dengan penambahan Sikament 520 0,2% yaitu sebesar 48,61 Mpa. Nilai kuat tekan rata-rata beton dari masingmasing variasi (lama pengadukan + % bahan tambah) 0+0%, 30+0%, 30+0,2%, 60+0%, 60+0,2%, 90+0%, 90+0,2% berturut-turut sebesar 35,04 Mpa, 39,68 Mpa, 39,81 Mpa, 40,53Mpa, 42,85Mpa, 39,43 Mpa, 48,61 Mpa. Sedangkan nilai Slump yang dihasilkan adalah berturut-turut sebesar 7cm, 8cm, 18cm, 7cm, 12,5cm, 8,5cm, 13,5 cm.